Ukir Relawan TurunTangan Malang

 

Halo Para Pejuang, yah kamu pemuda yang memiliki semangat untuk berjuang membantu sesama. Turun Tangan Malang memiliki semboyan “ADANYA MASALAH BUKAN HANYA KARENA ADANYA ORANG JAHAT. TAPI JUGA ORANG BAIK YANG MEMILIH DIAM DAN MENDIAMKAN. KAMI TIDKA MAU DIAM DAN MENDIAMKAN, KAMI PILIH TURUN TANGAN”.

Sudah kenal Turun Tangan Malang belum? Nah, saat ini Turun Tangan Malang akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Ada baiknya kenalan dulu supaya nanti bisa sayang. Turun Tangan Malang lahir dari adanya permasalahan yang terlihat dari kenyataan ditengah kehidupan masyarakat. Turun Tangan Malang berdiri pada tahun 2013. Pasca konvensi pemenangan Anies Baswedan, pergerakan Turun Tangan Malang mutlak memiliki eksistensi serta esensi mewarnai kehadiran Turun Tangan sejak awal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam project atau gerakan yang masih konsisten bergerak dalam menyelesaikan permasalahan di Malang Raya. Turun Tangan Malang terus berupaya melakukan perawatan gerakan dan pembaharuan gagasan gerakan yang menginspirasi dan bermanfaat guna jangka pendek maupun jangka panjang dengan fokusannya yakni sosial, pendidikan, budaya, dan lingkungan, yang hingga saat ini gerakan tersebut masih berjalan. Continue reading

Syair yang Lengkap Ditulisnya

Sudah berapa lama aku disini?

Pertama kali bertemu denganmu, kala itu rambutmu belum se-gondrong saat ini. Kau memakai jaket berwarna coklat, warnanya juga belum sepudar saat ini. Kau selalu memakainya, diwaktu kita sering bertemu tanpa sengaja. Sesekali kita bertemu waktu hujan turun, berteduh hingga petang. Tanpa saling sapa. Masih enggan memulai percakapan dua insan yang baru mengenal. Pernah sesekali aku melihatmu, selintas, sekenanya. Takut-takut kau memergokiku memperhatikanmu.

Kita sering bertemu, pada akhirnya. Ketika sama-sama sedang menunggu bis pagi di halte persimpangan jalan Mawar dan Anggrek. Hingga akhirnya kita saling melempar senyum tiap kali bertemu, kemudian menyodorkan tangan untuk saling mengucap nama. Akhirnya kita saling mengenal, tak hanya melempar senyum namun juga menyapa nama panggilan. Ya, Iksa namamu. Antariksa lengkapnya.”

“Hay mbak,,, rambutmu basah.”

“Iya, tadi tidak bawa payung.”

“Sama, tadi ditengah jalan baru turun gerimis. Untungnya tidak sederas hujan kemarin pagi.”

“hehehe… Iya. Nggak papa basah dikit. Kalau balik kerumah nanti keburu lewat bisnya.”

“Iksa…” katanya menyodorkan tangan padaku, pertama kalinya.

“Oh hay, Nita” kataku menyambut singkat.

“Hampir setiap hari ketemu, tapi tidak saling mengenal kan sayang. Siapa tau saya bisa diundang makan di rumah Mbak, lumayanlah dapat makan gratis. Hehehe…”

“Boleh boleh…” aku tertawa, tertawa bersamamu untuk pertama kalinya… bersama gerimis syahdu, bersama mendung di pagi yang indah. Bagiku.

Aku selalu menyukai waktu-waktu berjumpa denganmu. Aku selalu suka mendengar candamu, seperti kala itu. Perbincangan kita membahas Film Harry Potter. Kau bilang kau mirip Harry Potter, dengan kacamata yang sama, dan hidung yang sama. Seakan kau sudah sering bertemu dengan tokoh utama pemeran Harry Potter itu. Kau ubah suaramu menirukan gaya bicara Harry Potter, berbahasa Inggris. Kau rangkai sendiri kalimatnya, kau lafalkan dengan nada khas Jawa, medok. Sehingga membuatku tak tahan menahan tawa. Belum lagi satu hal yang kau sertakan, ekspresi wajah yang kau buat-buat semirip mungkin dengan tokoh yang kau ceritakan, membawa gelak tawa yang disertai kram perut berkepanjangan. Continue reading

23 Oktober 2016

Disini, pernah sesekali terbesit untuk ‘mundur’, mengabaikan segala payah yang terkadang terasa amat berat. Disini, terkadang lara mampir untuk menggoyahkanku dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Namun, disini aku belajar banyak. Bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak hanya berniat baik, tapi juga mau melakukan aksi baik. Jika sesekali merasa berat, mengingat kembali senyum anak-anak didik kita itu membuatku sadar bahwa kepayahan atau apapun itu namanya, tak akan bertahan lama setelah hari Sabtu terlewati. Air mata wajar jika sesekali mengalir, lelah manusiawi jika sesekali dirasakan. Tapi, untuk mundur dan melepas tanggung jawab ini tak akan pernah bisa menjadikanku manusia lagi. Terima Kasih untuk semua dukungan dan semangatnya. Sudah sebulan terlewati, 2 bulan lagi kita akan merindukan setiap detik yang kita lewati dengan perjuangan ini. :”)

Dunia, tanpamu.

Ditulis oleh: yunitasiswanti

 

Dunia seperti apa yang ingin kau tinggali?

Terang seperti apa yang kau ingini?

Janjimu tak kan kau letakkan

Di puing pengharapan yang berserakan bukan?

 

Kau sirami mawar kering milikku

Kau menjadi fajar dalam malamku

Yang gelap, dan dingin…

Kau, siapkah untuk kehidupan yang baru?

 

Hadirmu membawa sinar yang hangat

Dan membawa embun penyegar Continue reading

~ Jaamise ~

Kemarau kering membakar hatinya, bersama terik yang memancar gagah perkasa. Ia mencoba mengadukan lara yang ia dapati karena cinta. Selama ini percaya dengan cinta hanyalah kebodohan, simpulnya. Dari sudut matanya menetes peluh, peluh lelah perpaduan hati dan pikiran yang saling berselisih setiap detiknya. Ia menatap langit lekat-lekat. Silau, menyakitkan. Duka itu digenggamnya, peluh ia biarkan leluasa menguasai seluruh lapisan kulitnya. Lekat-lekat ia perhatikan sepanjang jalanan kering yang retak di sebagian sisinya. Menunggu, siapa tahu ada mata air yang akan menghilangkan dahaganya, menyapa dan memuaskannya. Mata air yang amat sangat dirinduinya. Mata air baginya hanya satu, Jaamise.

Adelard terus berjalan, sepanjang kemarau ia habiskan berkelana mengarungi negeri. Tak istirahat sama sekali. Sudah 6 tahun lamanya, ia berada di setiap sudut yang tak ingin dipandang siapapun. Mengabaikan dunianya, dan mencari dunia yang ingin ia tinggali, hati Jaamise. Alasannya sangat tak masuk akal, bagi seorang pecinta ulung tak ada kata menyerah. Jaamise, satu-satunya orang yang mampu membuat Adelard mengalah, gadis itu memancarkan sinar mentari dari matanya, terang dan hangat. Seperti bulan April, sangat sama. Pagi Lard lebih indah setelah melihat mentari terbit di mata Jaamise. Dan malam Lard, menjadi tenang setelah melihat bintang bersinar dari mata Jaamise. Gadis kecil yang hatinya teguh dan membara, api dihatinya tak pernah padam, api yang mampu melelehkan jiwa Lard dan memecahkan kebekuan hati Lard selama ini. Hari paling cerah bagi Lard ialah, ketika Jaamise selalu ada disisinya.

“Tidak Paman, Isse sudah bisa pergi sekolah sendiri.”Kata Jaamise melepas gandengan pamannya yang tak lain ialah Adelard. Continue reading

Maafkan aku…

gambar-orang-sedih-dan-menangis-35Aku masih ingat hari itu, dimana terakhir kali aku bertemu denganmu. Setelah sekian lama tak mendengar kabar darimu, tentu saja rinduku memberontak ingin disampaikan padamu. Dan aku berhasil menyampaikannya, untungnya kamu mampu memahami kode-kode tidak jelas yang kusampaikan hanya sebatas status BBM atau Facebookku. Aku sungguh tak mampu menyampaikan apapun tentang perasaanku padamu secara langsung, karena kamu spesial.

Hari itu, akhirnya kita bertemu. Setelah sekian lama aku akhirnya bisa melihat senyum yang telah lama kurindui. Hari itu kita memakai baju dengan warna yang sama, tidak sengaja. Kebetulan yang mendebarkan. Pertemuan denganmu selalu mampu membuat hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya. Malu, grogi, salting bercampur jadi satu, selalu seperti itu. setelah sejenak saling sapa dan bertukar kabar, kita pergi ke RSU, berniat periksa keadaanmu yang kurang enak badan. Tapi ternyata tutup karena hari Sabtu. Dan kita memutuskan untuk pergi mencari HP untuk adikmu. Sangat kental diingatanku, kala itu kebahagiaan terpancar di wajahmu. Kasih yang kau curahkan untuk adikmu sangat nampak dari senyum yang kau lukiskan. Continue reading

Le(i)lah

Waktu yang dulu kunamai setiap detiknya sebagai hening, kini menjelma menjadi damai. Sepi, bagiku tak lagi menjadi duka, tapi menjadi ruang. Ruang bagiku bercerita dan ruang bagiku membagi keluh dan kesah. Entah mengapa, kini aku menikmati sepi yang sebagian banyak orang menghindarinya. Ruang… bagiku kini sepi menjadi ruang, melepaskan semua yang tak mampu kulepas ketika bersama seseorang, dua orang atau beberapa orang. Ada bagian yang tak dapat keluar dari tenggorokanku karena memang tak berguna untuk diketahui orang lain. Tak berguna bagi orang itu maksudku, tapi akan sangat berguna bagiku, mungkin.

Hidup dengan cara yang kunikmati bertahun-tahun memang baik-baik saja. Aku tak pernah menggantungkan harapan pada orang lain, aku mengambil keputusan apapun sendiri, dan meneteskan air matapun terasa amat susah bagiku.

Hidup membentukku menjadi wanita angkuh, tak menerima perlindungan dari orang lain dan hidup dengan egoku sendiri. Aku menyerah mengubah itu, karena terbentuk menjadi diriku saat ini adalah pilihan yang kuambil sejak bertahun-tahun lalu, beberapa tahun lamanya aku membuat diriku terbentuk menjadi seangkuh saat ini.

Waktu itu, aku masih ingat kala aku memutuskan untuk menjadi diriku yang saat ini. Saat luka yang hingga sekarang masih terasa ngilu kudapatkan dari seseorang yang ‘harusnya’ teramat dekat denganku, menghantam hatiku. Sakitnya membawaku pada Sebuah kata, yaitu Lelah. Aku lelah menjalani hidup yang kurasa sangat tak adil bagiku, iri melihat hidup gadis-gadis lain yang sempurna bersama orang yang memang harusnya dekat dengan mereka. Berpegang pada siapa aku? Memiliki identitaspun tidak, karena identitas itu pergi meninggalkanku sejak awal mula. Menyerah? Mungkin berlebihan, tapi aku melakukannya. Aku menyerah menjadi gadis baik, dan berlaku jahat pada seseorang. Dimana usiaku belum genap 13 tahun, tapi aku memutuskan untuk menjadi orang jahat. Yah, kulakukan.

Tidak peduli pada banyak hal, dan hidup sesukaku sendiri, mencoba melakukan pemberontakan pada entah siapa dan untuk apa? Toh, tak ada yang mengerti dan memahami kemarahan dan kekecewaanku. Tapi… kala itu aku memiliki seorang malaikat kecil, yang berhati lembut dan menyadarkanku.

“sejahat apapun seseorang padamu, mereka pada dasarnya adalah orang baik yang menjadi jahat karena keadaan yang memaksanya.”

Continue reading