Kamu

Terkadang kita akan merasa kehilangan, namun hanya diam karna mengutarakan rasa hanya akan membuat segalanya terasa berbeda.

Terkadang kita memilih diam, karna enggan merusak segala payah tentang penjagaan, tentang penerimaan.

Meski gusar, berlawanan dengan rasa, pada akhirnya mengukuhkan sendiri, “Lebih baik begini”

Lalu perlahan pergi, karna segala sesuatu telah berubah. Hakikat rasa telah berbeda.

Ada yang dijaga meski bukan hati sendiri, ada yang dipertimbangkan meski bukan untuk sendiri.

Pada hakikatnya penerimaan atau pelepasan adalah sama. Ialah tentang perasaan yang hanya dimengerti perasa ulung.

Dengan rasa, meski resah menyayat ulu hatinya. Tanpa pamrih tetap merasai, “bahagia sendiri” (re: sakit sendiri) .

Advertisements

Dunia yang Kau Tinggali, Mimpi yang kuarungi

Aku bosan mempersoalkan rindu. Mendramatisir dan menuruti rasa yang susah dibendung. Lagi-lagi tentangnya. Zakaria. Lelaki yang kukenal lewat mimpi, lelaki yang kucintai dalam mimpiku dan dunia nyataku. Lelaki yang bersamaku selama 8 tahun lamanya, yah, dalam mimpi. Di dunia nyata, tidak! Pada akhirnya aku menyerah, mengungkap setiap rindu yang setiap harinya semakin menjadi jadi. Yang dulu mampu kusimpan sendiri dengan baik, yang dulu cukup memikirkannya sejenak kemudian menepisnya dengan mudah. Saat ini berbeda, sejak ia hadir setiap hari, dengan cerita yang berbeda, dengan senyum yang berbeda, dengan mimpi yang setiap saat semakin indah dan membuatku enggan bangun. Membuatku ingin lebih banyak tidur dan menikmati mimpiku. Itupun membuat rinduku menggila, setiap hari, setiap saat, bahkan setiap hembus nafas, namanya ada. Nama yang kuhafal diluar kepalaku. Yang mendengarnya, atau tak sengaja membacanya entah dimana membuat hatiku menderu dan jantungku berdegup. Zakaria, dia siapa?

Aku jatuh cinta, pada lelaki yang kujumpai pada mimpiku. Continue reading

Kesekian Kalinya

Tentu saja kurindu,
Pada peluh yg mengukir tegas gurat wajahmu.
Pada api yg membara didalam semangatmu.
Pada setiap tetes air mata yg luruh dalam kelembutanmu.
Tentu saja kurindu,
Pada setiap tawa yg mengagungkan pesonamu.
Duhai hati, yg melibatkan bahagiaku dalam setiap doamu.
Aku merinduimu,
Ku ingin pulang dan mengulang tahunan yg kita lalui bersama jarak.
Pulang dan mengembalikan waktu yg terenggut untukmu.
Menghabiskan segala rindu,
Yang sudah terlalu lama bersarang.
Yang telah kita kubur terlalu dalam,
Hingga hanya terlihat oleh nurani.

Ukir Relawan TurunTangan Malang

 

Halo Para Pejuang, yah kamu pemuda yang memiliki semangat untuk berjuang membantu sesama. Turun Tangan Malang memiliki semboyan “ADANYA MASALAH BUKAN HANYA KARENA ADANYA ORANG JAHAT. TAPI JUGA ORANG BAIK YANG MEMILIH DIAM DAN MENDIAMKAN. KAMI TIDKA MAU DIAM DAN MENDIAMKAN, KAMI PILIH TURUN TANGAN”.

Sudah kenal Turun Tangan Malang belum? Nah, saat ini Turun Tangan Malang akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Ada baiknya kenalan dulu supaya nanti bisa sayang. Turun Tangan Malang lahir dari adanya permasalahan yang terlihat dari kenyataan ditengah kehidupan masyarakat. Turun Tangan Malang berdiri pada tahun 2013. Pasca konvensi pemenangan Anies Baswedan, pergerakan Turun Tangan Malang mutlak memiliki eksistensi serta esensi mewarnai kehadiran Turun Tangan sejak awal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam project atau gerakan yang masih konsisten bergerak dalam menyelesaikan permasalahan di Malang Raya. Turun Tangan Malang terus berupaya melakukan perawatan gerakan dan pembaharuan gagasan gerakan yang menginspirasi dan bermanfaat guna jangka pendek maupun jangka panjang dengan fokusannya yakni sosial, pendidikan, budaya, dan lingkungan, yang hingga saat ini gerakan tersebut masih berjalan. Continue reading

Syair yang Lengkap Ditulisnya

Sudah berapa lama aku disini?

Pertama kali bertemu denganmu, kala itu rambutmu belum se-gondrong saat ini. Kau memakai jaket berwarna coklat, warnanya juga belum sepudar saat ini. Kau selalu memakainya, diwaktu kita sering bertemu tanpa sengaja. Sesekali kita bertemu waktu hujan turun, berteduh hingga petang. Tanpa saling sapa. Masih enggan memulai percakapan dua insan yang baru mengenal. Pernah sesekali aku melihatmu, selintas, sekenanya. Takut-takut kau memergokiku memperhatikanmu.

Kita sering bertemu, pada akhirnya. Ketika sama-sama sedang menunggu bis pagi di halte persimpangan jalan Mawar dan Anggrek. Hingga akhirnya kita saling melempar senyum tiap kali bertemu, kemudian menyodorkan tangan untuk saling mengucap nama. Akhirnya kita saling mengenal, tak hanya melempar senyum namun juga menyapa nama panggilan. Ya, Iksa namamu. Antariksa lengkapnya.”

“Hay mbak,,, rambutmu basah.”

“Iya, tadi tidak bawa payung.”

“Sama, tadi ditengah jalan baru turun gerimis. Untungnya tidak sederas hujan kemarin pagi.”

“hehehe… Iya. Nggak papa basah dikit. Kalau balik kerumah nanti keburu lewat bisnya.”

“Iksa…” katanya menyodorkan tangan padaku, pertama kalinya.

“Oh hay, Nita” kataku menyambut singkat.

“Hampir setiap hari ketemu, tapi tidak saling mengenal kan sayang. Siapa tau saya bisa diundang makan di rumah Mbak, lumayanlah dapat makan gratis. Hehehe…”

“Boleh boleh…” aku tertawa, tertawa bersamamu untuk pertama kalinya… bersama gerimis syahdu, bersama mendung di pagi yang indah. Bagiku.

Aku selalu menyukai waktu-waktu berjumpa denganmu. Aku selalu suka mendengar candamu, seperti kala itu. Perbincangan kita membahas Film Harry Potter. Kau bilang kau mirip Harry Potter, dengan kacamata yang sama, dan hidung yang sama. Seakan kau sudah sering bertemu dengan tokoh utama pemeran Harry Potter itu. Kau ubah suaramu menirukan gaya bicara Harry Potter, berbahasa Inggris. Kau rangkai sendiri kalimatnya, kau lafalkan dengan nada khas Jawa, medok. Sehingga membuatku tak tahan menahan tawa. Belum lagi satu hal yang kau sertakan, ekspresi wajah yang kau buat-buat semirip mungkin dengan tokoh yang kau ceritakan, membawa gelak tawa yang disertai kram perut berkepanjangan. Continue reading

23 Oktober 2016

Disini, pernah sesekali terbesit untuk ‘mundur’, mengabaikan segala payah yang terkadang terasa amat berat. Disini, terkadang lara mampir untuk menggoyahkanku dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Namun, disini aku belajar banyak. Bertemu dengan begitu banyak orang yang tidak hanya berniat baik, tapi juga mau melakukan aksi baik. Jika sesekali merasa berat, mengingat kembali senyum anak-anak didik kita itu membuatku sadar bahwa kepayahan atau apapun itu namanya, tak akan bertahan lama setelah hari Sabtu terlewati. Air mata wajar jika sesekali mengalir, lelah manusiawi jika sesekali dirasakan. Tapi, untuk mundur dan melepas tanggung jawab ini tak akan pernah bisa menjadikanku manusia lagi. Terima Kasih untuk semua dukungan dan semangatnya. Sudah sebulan terlewati, 2 bulan lagi kita akan merindukan setiap detik yang kita lewati dengan perjuangan ini. :”)